Pertemuan pertama kita. Pagi itu kau berjalan mencari ku dari kerumunan orang banyak, datang ke arahku dengan sangat yakin untuk menemuiku. Hingga langkahmu terhenti di hadapanku, ada kalimat yang masih sangat ku ingat waktu itu "Bahasa Jerman" dan atribut panitia kau pasangkan di leher ku dengan namamu sedangkan atributku dipakai olehmu, orang-orang mendatangi ku untuk meminta tanda tanganmu. Saat itu kau membuat ku heran dengan sikap mu, tapi aku bahagia bisa berkenalan dengan mu. Setiap tahun berlalu begitu cepat, hingga kini kau menjadi seorang kakak bagiku. Bukankah kau juga akan bahagia jika menggilku adik?. Aku tau jarang sekali kita bertemu, bahkan mungkin bisa di hitung berapa kali. Tidak jarang kita saling cuek saling lupa meskipun kita tidak mau mengatakan bahwa kita lupa, tapi hal sperti itu tidak pernah membuatku untuk tidak menyayangimu. AINI
Seketika aku terdiam beserta tangisku dalam hati. Kupaksakan tetap terlihat baik, saat kau muncul dihadapanku dengan gandengan barumu itu, "sudahlah... jangan sampai aku hanya berharap lebih sementara dia sudah milik orang lain", otakku berbicara dengan entengnya aku berfikir seperti itu. Sudah lama sejak kau hadir sampai ketika kau meminta untuk pergi kau masih saja membuat ku ingin menangisi mu, entah aku yang bodoh atau apakah sebaliknya? Bahwa kau yang menyia-nyiakan ku yang sama skali aku tidak pernah mengkhianatimu, aku tetap berfikir bodohnya dirimu. Sekecewa itukah aku? Karena dirimu yang tak berperasaan, bergandeng dengan kekasih barumu dihadapanku seolah-olah kau tak pernah mengenalku. Hey! Sadarkah kau siapa aku dulu bagimu? Yang selalu kau puji dengan kata-kata indahmu itu? Gombalan yang tidak bermutu itu yang membuatku menyadari bahwa kau hanya ingin singgah menanam bunga dihatiku dan untuk kemudian kau hanya ingin melihatnya layu. Kamu sudah membuat cerita d k...